Penaklukan Andalusia
Islam berkuasa di Andalusia selama hampir 8 abad lamanya, atau lebih tepatnya dari tahun 711-1492M. Kekuasaan Islam di Andalusia ini disebut juga pemerintahan Bani Umayah II, yaitu sebagian kecil wilayah yang tersisa dari pemerintahan Bani Umayah I yang runtuh karena serangan Bani Abbasiyah.
Sebelum Islam datang, Andalusia berada di bawah kekuasaan Raja Visgoth dari Jerman, yang berhasil mengambil alih Andalusia dari pasukan Romawi. Wilayah Andalusia terbagi menjadi 5 kerajaan besar yaitu Kastilia, Leon, Aragon, Navarra dan Portugal.
Penaklukan Andalusia dilakukan pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik pada masa Bani Umayah I. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair.
Tharif bin Malik disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa dengan satu pasukan perang lima ratus orang. Ia kembali ke Afrika Utara membawa kemenangan dan harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya.
Didorong oleh keberhasilan Tharif, ketidakstabilan politik dan konflik internal Kerajaan Visigoth, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Gubernur Afrika Utara (Maroko), Musa bin Nushair, memerintahkan Jenderal Thariq bin Ziyad untuk melakukan penyerangan ke Semenanjung Iberia. Penaklukan itu terjadi pada bulan Rajab tahun 97H atau sekitar bulan Juli 711H.
Jenderal Thariq bin Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penaklukan Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat Gibraltar di bawah pimpinan Jenderal Thariq bin Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Jenderal Thariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya dikenal dengan nama Gibraltar (berasal dari kata “Jabal Thariq” yang berarti “Gunung Thariq”).
Untuk memenangkan perang, Jenderal Thariq bin Ziyad memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal yang mereka pakai menuju Spanyol. Ia lalu berkata pada anak buahnya, “Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.”
Strategi ini dipakai untuk membakar semangat juang pasukannya, dan membuat mereka melakukan ini semua hanya untuk Allah semata. Ini menunjukkan betapa Jenderal Thariq bin Ziyad memiliki bentuk kepasrahan total pada Rabb-nya.
Pada 19 Juli 711H, Raja Roderic dari Visigoth terbunuh dalam pertempuran Guadalete. Benar saja, hanya dengan 7.000 pasukan, Jenderal Thariq bin Ziyad dapat meluluhlantahkan 20.000-50.000 pasukan kekuatan musuh dan meraih kemenangan. Setelah itu, Jenderal Thariq bin Ziyad menjadi gubernur di wilayah Andalusia.
Setahun kemudian, Musa bin Nushair datang membawa 10.000 pasukan menyusul Jenderal Thariq bin Ziyad. Sejak saat itu, satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduki, antara lain: Toledo (Ibukota Kerajaan Visigoth), Elvira, Granada, Cordoba dan Malaga. Lalu dilanjutkan Zaragoza, Aragon, Leon, Asturia dan Galicia. Bahkan, Portugis dapat mereka taklukkan dan mengganti namanya menjadi Al-Gharb (Barat). Hanya daerah Galicia, Basque dan Asturias yang tidak tunduk kepada kekuasaan Islam. Dalam waktu 2 tahun, seluruh wilayah Spanyol, Portugal dan Perancis bagian selatan dapat dikuasai pasukan Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair.
Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair berencana untuk terus membawa pasukannya ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa, sebab waktu itu tak ada kekuatan yang mampu menadinginya. Namun niat tersebut tak dapat terealisasi karenan mereka berdua dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik.
Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah tidak dapat kembali ke Andalusia karena jatuh sakit dan meninggal dunia. Jenderal Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika yang menaklukkan dataran Eropa.
Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal:
- Kondisi sosial, politik, dan ekonomi Kerajaan Visigoth berada dalam keadaan yang buruk.
- Adanya perebutan kekuasaan di antara elite pemerintahan dan adanya konflik umat beragama yang menghancurkan kerukunan dan toleransi di antara mereka.
- Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderic, raja terakhir Kerajaan Visigoth yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran Ghot adalah ketika Raja Roderic memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhentikan begitu saja.
- Tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu orang Yahudi yang selama ini tertekan juga telah mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin.
Adapun faktor internalnya yaitu terdapat dalam tubuh para penguasa sendiri, seperti tokoh-tokoh perjuangan dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Selain itu, mereka melakukan semuanya dilandaskan atas rasa cinta dan takut pada Allah. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana.

0 komentar:
Posting Komentar