Hot Reads

Minggu, 21 September 2014

Penaklukan Andalusia

Islam berkuasa di Andalusia selama hampir 8 abad lamanya, atau lebih tepatnya dari tahun 711-1492M. Kekuasaan Islam di Andalusia ini disebut juga pemerintahan Bani Umayah II, yaitu sebagian kecil wilayah yang tersisa dari pemerintahan Bani Umayah I yang runtuh karena serangan Bani Abbasiyah.
Sebelum Islam datang, Andalusia berada di bawah kekuasaan Raja Visgoth dari Jerman, yang berhasil mengambil alih Andalusia dari pasukan Romawi. Wilayah Andalusia terbagi menjadi 5 kerajaan besar yaitu Kastilia, Leon, Aragon, Navarra dan Portugal.
Penaklukan Andalusia dilakukan pada masa kekhalifahan Walid bin Abdul Malik pada masa Bani Umayah I. Dalam proses penaklukan Spanyol terdapat tiga pahlawan Islam paling berjasa memimpin satuan-satuan pasukan ke sana. Mereka adalah Tharif bin Malik, Thariq bin Ziyad, dan Musa bin Nushair. 
        Tharif bin Malik disebut sebagai perintis dan penyelidik. Ia menyeberangi selat yang berada di antara Maroko dan benua Eropa dengan satu pasukan perang lima ratus orang. Ia kembali ke Afrika Utara membawa kemenangan dan harta rampasan yang tidak sedikit jumlahnya. 
         Didorong oleh keberhasilan Tharif, ketidakstabilan politik dan konflik internal Kerajaan Visigoth, serta dorongan yang besar untuk memperoleh harta rampasan perang, Gubernur Afrika Utara (Maroko), Musa bin Nushair, memerintahkan Jenderal Thariq bin Ziyad untuk melakukan penyerangan ke Semenanjung Iberia. Penaklukan itu terjadi pada bulan Rajab tahun 97H atau sekitar bulan Juli 711H.     
         Jenderal Thariq bin Ziyad lebih banyak dikenal sebagai penaklukan Spanyol karena pasukannya lebih besar dan hasilnya lebih nyata. Pasukannya terdiri dari sebagian besar suku Barbar yang didukung oleh Musa bin Nushair dan sebagian lagi orang Arab yang dikirim Khalifah al-Walid. Pasukan itu kemudian menyeberangi selat Gibraltar di bawah pimpinan Jenderal Thariq bin Ziyad. Sebuah gunung tempat pertama kali Jenderal Thariq bin Ziyad dan pasukannya mendarat dan menyiapkan pasukannya dikenal dengan nama Gibraltar (berasal dari kata “Jabal Thariq” yang berarti “Gunung Thariq”).
Untuk memenangkan perang, Jenderal Thariq bin Ziyad memerintahkan pasukannya untuk membakar semua kapal yang mereka pakai menuju Spanyol. Ia lalu berkata pada anak buahnya, “Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian lakukan sekarang kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran.” 
       Strategi ini dipakai untuk membakar semangat juang pasukannya, dan membuat mereka melakukan ini semua hanya untuk Allah semata. Ini menunjukkan betapa Jenderal Thariq bin Ziyad memiliki bentuk kepasrahan total pada Rabb-nya.
          Pada 19 Juli 711H, Raja Roderic dari Visigoth terbunuh dalam pertempuran Guadalete. Benar saja, hanya dengan 7.000 pasukan, Jenderal Thariq bin Ziyad dapat meluluhlantahkan 20.000-50.000 pasukan kekuatan musuh dan meraih kemenangan. Setelah itu, Jenderal Thariq bin Ziyad menjadi gubernur di wilayah Andalusia.
         Setahun kemudian, Musa bin Nushair datang membawa 10.000 pasukan menyusul Jenderal Thariq bin Ziyad. Sejak saat itu, satu demi satu kota-kota di Andalusia berhasil diduki, antara lain: Toledo (Ibukota Kerajaan Visigoth), Elvira, Granada, Cordoba dan Malaga. Lalu dilanjutkan Zaragoza, Aragon, Leon, Asturia dan Galicia. Bahkan, Portugis dapat mereka taklukkan dan mengganti namanya menjadi Al-Gharb (Barat). Hanya daerah Galicia, Basque dan Asturias yang tidak tunduk kepada kekuasaan Islam. Dalam waktu 2 tahun, seluruh wilayah Spanyol, Portugal dan Perancis bagian selatan dapat dikuasai pasukan Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair.
          Thariq bin Ziyad dan Musa bin Nushair berencana untuk terus membawa pasukannya ke utara untuk menaklukkan seluruh Eropa, sebab waktu itu tak ada kekuatan yang mampu menadinginya. Namun niat tersebut tak dapat terealisasi karenan mereka berdua dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid bin Abdul Malik.
Setelah bertemu Khalifah, Thariq bin Ziyad ditakdirkan Allah tidak dapat kembali ke Andalusia karena jatuh sakit dan meninggal dunia. Jenderal Thariq bin Ziyad telah menorehkan namanya di lembar sejarah sebagai putra asli Afrika yang menaklukkan dataran Eropa.
         Kemenangan-kemenangan yang dicapai umat Islam nampak begitu mudah. Hal itu tidak dapat dipisahkan dari adanya faktor eksternal dan internal.
Faktor eksternal:
- Kondisi sosial, politik, dan ekonomi Kerajaan Visigoth berada dalam keadaan yang buruk.
- Adanya perebutan kekuasaan di antara elite pemerintahan dan adanya konflik umat beragama yang menghancurkan kerukunan dan toleransi di antara mereka.
- Kondisi terburuk terjadi pada masa pemerintahan Raja Roderic, raja terakhir Kerajaan Visigoth yang dikalahkan Islam. Awal kehancuran Ghot adalah ketika Raja Roderic memindahkan ibu kota negaranya dari Seville ke Toledo, sementara Witiza yang saat itu menjadi penguasa atas wilayah Toledo diberhentikan begitu saja. 
- Tentara Roderick yang terdiri dari para budak yang tertindas tidak lagi mempunyai semangat perang. Selain itu orang Yahudi yang selama ini tertekan juga telah mengadakan persekutuan dan memberikan bantuan bagi perjuangan kaum Muslimin. 
          Adapun faktor internalnya yaitu terdapat dalam tubuh para penguasa sendiri, seperti tokoh-tokoh perjuangan dan para prajurit Islam yang terlibat dalam penaklukan wilayah Spanyol pada khususnya. Para pemimpin adalah tokoh-tokoh yang kuat, tentaranya kompak, bersatu dan penuh percaya diri. Selain itu, mereka melakukan semuanya dilandaskan atas rasa cinta dan takut pada Allah. Sikap toleransi agama dan persaudaraan yang terdapat dalam pribadi kaum muslimin itu menyebabkan penduduk Spanyol menyambut kehadiran Islam di sana. 

Bani Umayah


                Awal berdirinya pemerintahan Bani Umayah adalah setelah pengunduran diri Ali bin Abi Thalib dari jabatannya sebagai khalifah. Posisi Ali tersebut kemudian diganti dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang pada saat itu menjabat sebagai Gubernur Damaskus. Masa pemerintahan Bani Umayah berlangsung sekitar 90 tahun atau dari tahun 661-750M. Corak pemerintahan ini adalah Monarchi Hereditas (kerajaan turun temurun).
            Ada 14 khalifah yang memimpin pemerintahan Bani Umayah, yang terbagi menjadi 2 periode. Periode pertama  dipimpin oleh keturunan Mu’awiyah bin Abi Sufyan selama sekitar 23 tahun dari tahun 661-683M. Mereka adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan yang menjabat dari tahun 661-679M; Yazid bin Mu’awiyah dari tahun 679-683M; dan Mu’awiyah II bin Yazid yang hanya memerintah pada tahun 683M karena adanya pemberontak bernama Ibnu Zubair.
            Periode kedua berlangsung selama sekitar 66 tahun atau dari tahun 683-749M. Periode kedua ini dipimpin oleh keturunan Marwan bin Hakam atau sepupu Mu’awiyah bin Abi Sufyan. Mereka adalah Marwan bin Hakam (683-684M); Abdul Malik bin Marwan (684-705M); Walid bin Abdul Malik (705-711M); Sulaiman bin Abdul Malik (714-717M); Umar bin Abdul Aziz bin Marwan (717-719M); Yazid bin Abdul Malik (719-723M); Hisyam bin Abdul Malik (723-742M); Walid bin Yazin bin Abdul Malik (742-743M); Yazid bin Walid bin Abdul Malik (743M); Ibrahim bin Walid bin Abdul Malik (743-744M); dan Marwan bin Muhammad bin Marwan (744-749M).
            Namun di sini saya hanya akan membahas tentang khalifah-khalifah besar Bani Umayah berserta pencapaian-pencapaiannya.
-          Mu’awiyah bin Abi Sufyan
Berkuasa sekitar 19 tahun, ia adalah penderi pemerintahan Bani Umayah. Ekspansi wilayahnya mencapai Tunisia, Afganistan-Kabul, dan Khurasan-Sungai Oxus. Angkatan lautnya berkekuatan 1.700 kapal menyerang ibukota Bizantium, Konstantinopel, namun tak berhasil ditaklukkan. Ia berhasil menaklukkan daerah-daerah di sekitarnya, seperti Kepulauan Jarba, Kepulauan Rhodesia, Kreta dan Ijih.
-          Abdul Malik bin Marwan
Berkuasa selama sekiatar 20 tahun, ia melanjutkan ekspansi wilayah pendahulunya, Mu’awiyah. Ia mengirim tentara menyeberangi Sungai Oxus dan berhasil menaklukkan Balkh, Bukhara, Khawarizm, Farghana dan Samarkand. Tentaranya bahkan sampai ke India dan menguasai Bulukhistan, Sind, Punjab (Pakistan) dan Maltan.
-          Walid bin Abdul Malik
Berkuasa kurang lebih selama 9 tahun, ia melakukan ekspansi ke Afrika Utara, menuju wilayah barat daya, Benua Eropa pada tahun 711M. Al Jazair dan Maroko dapat ditaklukkan di bawah pimpinan Musa bin Nushair yang kemudian diangkat menjadi gubernur di wilayah itu. Pada 711M, Kerajaan Visigoth (penguasa Spanyol) dapat dikalahkan di bawah pemimpinan Thariq bin Ziyad. Kota-kota seperti Cordova, Seville, Elvira dan Toledo dapat diduduki dengan mudah. Thariq bin Ziyad kemudian diangkat menjadi gubernur di wilayah itu. Dalam kurun 2 tahun, seluruh wilayah Spanyol, Portugal dan Prancis bagian selatan dapat dikuasai tentara Islam.
-          Umar bin Abdul Aziz bin Marwan
Berkuasa hanya kurang lebih 2 tahun, ia melanjutkan serangan ke Prancis melalui pegunungan Piranee. Serangan ini dipimpin oleh Abdul Rahman bin Abdullah al Ghafiqi. Serangan dilancarkan dari wilayah Bordeux, Poiters, lalu dilanjutkan ke Tours hingga mendekati Paris. Karena ketakutan, orang-orang kristen Eropa lalu bersatu dibawah pimpinan Charles Martel untuk menghadang pasukan muslim. Terjadilah perang yang disebut “Bilath Syuhada” yang menyebabkan Al Ghafiqi terbunuh dan pasukan muslim ditarik mundur ke Spanyol.
Prestasi-prestasi lain yang dicapai pemerintahan Bani Umayah antara lain: mendirikan kantor pos dengan menyediakan kuda-kuda lengkap dengan peralatannya di sepanjang jalan; menertibkan angkatan bersenjata agar lebih terorganisir dan tangguh; mencetak mata uang dengan tulisan berbahasa Arab pada tahun 659M, menggantikan mata uang Bizantium dan Persia; membuat jabatan hakim (qadhi) menjadi profesi tersendiri; Bahasa Arab menjadi bahasa resmi, semua urusan administratis wajib menggunakan Bahasa Arab; membangun panti-panti untuk orang cacad, dan menggaji para pegawainya; membangun pusat ekonomi, pabrik-pabrik, infrakstruktur seperti jalan-jalan, gedung-gedung, dan masjid-masjid dengan megah.
Meski memilik banyak sekali prestasi, pemerintahan Bani Umayah pada tahun 750M runtuh dan hanya menyisakan wilayah kecil di Andalusia yang kemudian menjadi pemerintahan Bani Umayah II. Fakktor-faktor keruntuhannya adalah:
-  Era khalifah terakhir, Marwan bin Muhammad bin Marwan (744-749), adalah era pemerintahan yang sangat lemah, salah satunya adalah karena kebiasaan hidup mewah di lingkungan istana.
-      Ketidakstabilan politik dan banyaknya konflik internal
-      Pemberontakan kaum Khawarij yaitu kaum pembenci Ali dan Mu’awiyah
-     Perlawanan kaum Syi’ah yang tak pernah suruh yang dipicu oleh pembununhan Husein oleh  Khalifah Yazid (peristiwa Karbala
-    Penyebab langsung runtuhnya pemerintahan Bani Umayah adalah munculnya kekuatan baru yaitu keturunan al Abbas yang mendapat dukungan kuat dari keturunan Bani Hasyim, golongan Syi’ah dan Mawali (umas muslin non-Arab) yang sudah lama tidak suka dengan pemerintahan Bani Umayah.
Copyright © 2014 SENDA's BLOG